mamandut

Monday, July 24, 2006

Pola Makan

Makan apa ya ? Atau makan dimana ya ? Pertanyaan itu pasti sering muncul bagi kita yang pekerja kantoran saat akan tiba waktu makan siang. Dan banyak juga yang bingung mengambil keputusan soal mau makan apa ya. Faktor cuaca yang panas sehingga malas keluar kantor, menu makanan yang itu-itu saja sering membuat kita bingung menentukan pilihan.

Tapi dua cerita ini mungkin jadi referensi buat menentukan sudah benarkah pola makan kita.

Dua minggu lalu Bapakku kena stroke, sesuatu yang mengagetkan mengingat beliau tidak pernah mengeluhkan darah tinggi. Kecemasan menggayuti aku dan adik-adikku, selain sedikit trauma karena Mama kami meninggal karena stroke. Kita penasaran, apa penyebabnya stroke Bapak. Rupanya pola makan beliau, sepeninggal Mama, Bapak memang tinggal seorang diri, untuk makan beliau makan di warung. Pernah kami tawarkan katering, tapi Bapak menolak dengan alasan nanti nggak cocok antara yang diinginkan untuk dimakan beliau dengan kiriman katering. Tapi dengan makan di warung jadi kurang terkontrol pilihan makanannya. Seringnya pilihan makanan yang enak tapi bahaya, seperti makanan berlemak tinggi.

Cerita kedua, aku alami ketika mengantar teman konsultasi ke dokter karena dia sering pusing, diagnosa dokter mengagetkan. Kurang gizi ! Bayangkan betapa memalukan menurut temanku, tapi dokter menyakinkan, meski kita tidak kekurangan makan, bukan berarti asupan gizi dari makanan yang kita makan sudah cukup.

Jadi, kupikir benar juga kata banyak informasi kesehatan, kita perlu mengatur pola makan dengan baik.

Menurutku, pola makan juga berkorelasi dengan kondisi kantong. Bila kantong tebel, kita bisa memilih apa yang mau kita makan, tapi bila mulai menipis agak susah kali ya....:-) Tapi kita harus banyak bersyukur karena banyak orang yang justru sama sekali tak bisa mengatur makanan yang akan dimakan karena jangankan memilih makanan, membelipun mereka tak mampu.

Mama janji akan belajar, Nak.

Itu yang kuucapkan pada anakku hari Minggu lalu, janji yang menurutku akan sangat berat menjalankannya. Janji untuk belajar melupakan kesalahan seseorang yang masih sangat menyakitkan. Tapi sebuah pertanyaan sederhana dari anakku membuatku bertekad akan melaksanakan janji itu.

Diawali dari sebuah pertanyaan sederhana dari Ichan, "Kenapa Mama sebel sama Mbak Narti ?". Narti adalah bekas pengasuh anakku, hampir setahun yang lalu dia berhenti bekerja, keesokan hari setelah dia berhenti bekerja, aku melihat banyak lebam karena cubitan di paha anakku. Rupanya selama ini, Chandra sering dimarahi dan dipukul, tidak sampai keras karena tak pernah terlihat bekasnya, baru pada hari terakhir itu saja pernah terlihat bekasnya. Tapi luka batinnya yang lebih aku khawatirkan.

Aku marah besar, tapi sayang terlambat mengetahuinya, ternyata bukan itu saja. Chandra trauma dengan acara makan, karena sering dipaksa dimasukkan makanan. Itu sebabnya dia susah makan juga denganku bila hari libur. Berperilaku kasar karena sering dia menerima perlakuan kasar. Kami sempat konsultasi dengan psikolog, obatnya hanya kesabaran, kepercayaan buatnya, dan kasih sayang lebih berlimpah selama berbulan-bulan untuk membuatnya pulih menjadi periang, percaya diri, dan percaya pada orang lain selain aku dan Bapaknya, membuatnya lebih tenang saat mengungkapkan sesuatu.

Tetapi bulan-bulan terakhir, Narti muncul lagi, dia bekerja masih disekitar tempat tinggal kami. Chandra sering berjumpa dengannya. Chandra sendiri sepertinya sudah biasa saja, meski dalam banyak kesempatan dia masih suka bilang, "Ichan nggak mau sama Mbak Narti lagi, karena suka marah dan cubit-cubit." Tapi bila Narti menegur dan mengajaknya bicara dia sudah biasa saja.

Hari Sabtu lalu Narti mampir ke rumah, tidak masuk hanya di halaman rumah saja menyapa Chandra. Aku yang sudah menganggapnya "mati" sejak tahu perlakuannya pada Chandra tidak menghiraukan dia dan memilih masuk rumah. Chandra mengikutiku masuk rumah dan menanyakan pertanyaan tadi. "Kenapa Mama sebel sama Mbak Narti ?" Aku jawab karena Mbak Narti nakal sama Ichan. Tapi jawabannya membuatku kaget. "Ichan sudah ndak sebel sama Mbak Narti, tapi Ichan ndak mau Mbak Narti jadi Mbak Ichan lagi, Ma. Mama jangan sebel ya." Mungkin intinya dia sudah memaafkan Narti. Aku tertegun, dan tiba-tiba sebuah kesadaran baru muncul, jika Chandra yang sudah mengalami penganiayaan itu saja sudah "sembuh" haruskah masih kusimpan kemarahan atas perlakuan yang diterima anakku itu?

Aku bertekad tak akan mengajarkan dendam itu padanya, jadi kubuat janji akan belajar untuk tidak sebel lagi dengan Narti. Sesuatu yang berat buatku, karena masih terbayang dia menjerit-jerit melihat piring dan sendok, melihat dia takut dengan pengasuh baru, melihat dia bicara dan berperilaku kasar. Tapi harus belajar kulupakan itu, demi Chandra.

Terima kasih anakku, hari itu aku belajar sesuatu yang berharga darimu.

Wednesday, June 21, 2006

Tiga Pemberani Cilik (2)

Cerita ini bukan kelanjutan tiga anak kecil pemberani yang kutulis 18 Oktober 2005 lalu. Jika di Tiga Pemberani Cilik terdahulu aku penasaran dan kagum dengan cara orangtua anak-anak itu mendidik anak pemberani di jaman penuh kecurigaan dan ketakutan seperti sekarang, di cerita ini aku penasaran sekaligus marah bercampur sedih, pada orang tua 3 anak kecil yang kutemui 2 malam yang lalu. Apa pasalnya ?

Tiga anak itu kutemui dalam angkot saat pulang kantor, sekitar pukul 7 malam. Yang terbesar perempuan, umurnya sekitar 10 tahun, dia menggendong anak kecil lain, yang umurnya kutaksir sekitar 10-11 bulan, sembari menggendong dia menggandeng anak perempuan kecil lain yang umurnya sekitar 3 tahun. Yang menarik perhatian pertama, adalah anak perempuan kecil itu, karena dia tidak pakai baju, hanya mengenakan celana pendek tipis di malam dingin itu. Kukira mereka pengemis, karena anak perempuan kecil tak berbaju itu memegang gelas bekas air mineral dan uang receh di dalamnya.

Jika 3 anak pemberani sebelumnya itu akan berangkat sekolah dan hanya tersenyum manis jika ditanya , maka anak perempuan kecil yang kutemui malam itu hanya memandang kosong sementara anak yang tertua memandang dengan penuh kecurigaan pada orang-orang yang mengajak mereka bicara.

Siapapun anak-anak itu, bagiku mereka tetap pemberani cilik, berjuang untuk bertahan hidup di jalanan.

Wednesday, June 14, 2006

Tanggal Merah

Dari jaman kita sekolah hingga sekarang kita kerja kantoran, tanggal merah pasti menarik perhatian. Ngaku deh, bahkan mungkin diharap-harapkan. Aku bahkan punya temen yang hobi ngapalin tanggal merah dalam setahun :-) Atau ada juga yang sudah menyusun rencana jauh-jauh hari dengan tanggal merah itu.

Rupanya bukan cuma kita yang berharap warna angka di kalender itu merah, tapi si Ichan, putri kecilku juga. Ini hasil ngobrolku dengannya soal warna merah di kalender ini.

Kalo angka di kalender warnanya merah, mama libur ya ?
Iya, betul nak (aku bingung juga, dari siapa konsep baru ini)
Kalo gitu Ichan kasih warna merah semua aja angkanya ya, biar mama libur terus
Tidak bisa begitu nak, bukan kita yang boleh kasih warna merah pada angka-angka itu
Trus siapa yang boleh ?
Orang yang tugasnya membuat kalender itu
Mama minta tolong saja sama yang buat kalender, supaya angkanya jadi merah semua Ma :-))

Pemandu Sorak

Pasti sudah kenal dengan istilah pemandu sorak, sekelompok orang yang bertugas untuk memberi semangat pada tim yang sedang bertanding, biasanya di bidang olahraga. Sekarang pemandu sorak tidak hanya banyak ada dalam pertandingan olahraga tetapi di banyak acara lainnya seperti acara-acara di televisi bahkan dalam acara peluncuran produk.

Meski aku bukan siapa-siapa, aku juga punya pemandu sorak, tentu saja dalam tanda kutip.
Mereka inilah yang menyemangati aku dalam banyak hal, memberi semangat saat aku lelah, memberi semangat saat aku jenuh, memberi semangat saat aku malas bahkan memberi peringatan saat aku terlena.

Terima kasih kuucapkan buat para pemandu sorak-ku, salah satunya pemandu sorak buat blogku ini. Mereka memberi semangat saat dua bulan terakhir tak juga ku-update blog ini.
Terima kasih dan jangan kapok ya jadi pemandu sorak :)

Friday, April 28, 2006

Utang Rasa

Dalam perjalanan berangkat ke kantor waktu itu, dalam bis patas yang kunaiki, aku duduk bersebelahan dengan seorang cewek. Tak lama aku duduk cewek itu mengeluarkan sepotong roti dan mulai memakannya.....kayaknya enak banget menurut penglihatanku, bahkan mungkin tanpa sadar aku menelan ludah :)

Baru kini aku makin sadar apa maksud nasehat ibuku dulu....."Janganlah kau makan atau minum di depan orang lain saat kau tidak bisa menawarinya apa yang sedang kau nikmati itu. Kau sudah berhutang rasa namanya."

Dan betapa juga aku malu bahwa selama inipun aku juga sering melakukannya, mengabaikan nasehat itu. Telah berutang rasa pada orang lain.

Thursday, March 09, 2006

Tongki - Tongseng


Judulnya bukanlah nama sebuah warung tongseng yang enak dan terkenal, tapi panggilan buat si Adek dari Bapaknya, panggilan yang aku tentang habis-habisan.

Gigi si Adek memang agak maju, bagaimana tidak, jatuh dengan bibir jontor mungkin 5 kali, 2 kali dengan gigi patah. Pertama kali patah dia sempat nggak pede untuk senyum atau tertawa...tapi aku bilang, "Adek tetap cantik biarpun giginya patah. Senyum dan tertawa biasa saja Nak, nggak perlu malu."

Gigi itu sempat dikikir oleh dokter, tapi kemudian patah lagi karena jatuh..he..he... tapi yang kedua ini dia cuek saja.

Tapi mungkin karena kondisi giginya sempat agak goyah padahal waktu itu dia masih minum susu dengan dot, posisi gigi depan itu jadi agak maju.

Pertama kali suamiku memanggilnya Tongseng karena giginya jadi agak tonggos, aku marah besar.....setengah mati aku membangun rasa percaya dirinya karena gigi patah eh...dipanggil Tongseng. Tapi suamiku berkilah bahwa suatu hari dia akan menerima panggilan itu dari orang-orang sekitarnya, jadi mentalnya harus dilatih dari sekarang. Pemikiran yang harus kuakui ada benarnya. Jadi meski setengah tak rela kubiarkan saja kadang-kadang si Adek dipanggil begitu.

Tapi...inilah jawabannya setiap kali Bapaknya memanggil Tongki atau Tongseng.
"Namanya....Ichan bukan Tongki ! Ichan cantik biar tongseng." :-))

Aku Tak Pernah Biasa

Ini bukan sekuel lagu Aku Tak Biasa yang pernah populer beberapa tahun lalu....tapi tentang perasaan terhadap banyak kejadian di Jakarta.

Sudah 1 dekade aku tinggal disini, tapi tetap miris setiap kali melihat anak-anak jalanan, tetap sedih melihat sungai menghitam dan penuh sampah....tetap ketakutan dijalan saat harus pulang malam.

Minggu lalu aku lewat salah satu jalan protokol, aku terjebak diantara para demonstran yang bentrok dengan polisi....ini juga aku tak pernah biasa, meski 8 tahun terakhir demonstrasi menjadi salah satu pemandangan biasa di Jakarta...bahkan kabarnya jadi salah satu lapangan pekerjaan baru :-)

Tapi sepertinya.....aku tetap tak akan pernah biasa.

Tuesday, February 28, 2006

Hasilnya Negatif

Banyak orang tidak suka bila atas apa yang dikerjakannya hasilnya adalah negatif. Meski arti negatif lebih banyak mengarah pada sesuatu yang kurang baik, ada juga yang justru berharap hasil atas sesuatu adalah negatif.

Pasangan suami istri yang masih ingin menunda kehadiran momongan contohnya, pasti lega ketika hasil test kehamilan menunjukkan hasil negatif.

Diantara yang berharap hasil test negatif, aku salah satunya.... tapi bukan untuk test kehamilan :) melainkan hasil test atau pemeriksaan medis yang dijalankan bidadari kecilku.

Ingin melompat rasanya ketika kemarin setelah melihat semua hasil test laboratoriumnya, dokter si Adek bilang...."Hasilnya negatif, Bu. Syukurlah"

Itu artinya tak ada kelainan dalam proses metabolisme penyerapan makanan oleh darahnya.







Monday, February 20, 2006

Ichan Bukan Ulat, kan ?

Ini masa-masa menyenangkan sekaligus menyulitkan buatku, masa dimana bidadari kecilku sedang giat-giatnya menanyakan banyak hal yang ada di benaknya.

Inilah pertanyaan barunya....."Ichan (begitu ia menyebut dirinya) bukan ulat kan ?"
Tentu saja kujawab bukan plus perasaan cemas menunggu pertanyaan berikutnya :-)

"Kenapa Ichan dikasih makan daun ?"....he..he...he... rupanya itu, memang ditanyakannya waktu dia menemaniku belanja di tukang sayur.

Kujelaskan bahwa manusia juga perlu makan daun yang disebut juga sayuran. Tidak semua daun bisa dimakan oleh manusia, ada daun yang bisa dimakan ulat tapi manusia tidak makan daun itu. Manusia perlu makan sayuran agar badannya sehat dan pup (maaf) nya lancar.

Apakah sebaiknya kubuat ensiklopedi atas semua pertanyaannya, siapa tahu bermanfaat...... ?