mamandut

Friday, February 18, 2005

Anak Sulit

Aku tidak suka istilah ini untuk melabel seorang anak. Rasanya membuat makhluk mungil itu seperti soal-soal ujian yang menakutkan. Menurutku tidak ada anak yang sulit .... hanya sedikit berbeda dengan anak-anak biasa.

Menjadi berbeda tidak harus dianggap sulit atau malah aneh. Sedih, jika hanya karena perilakunya tidak manis, tidak penurut, seorang anak harus menyandang predikat anak sulit...atau malah aneh.

Padahal yang membuat mereka menyandang julukan itu sebagian besar karena hal-hal ini :

Punya rasa ingin tahu lebih besar dari anak-anak kebanyakan, sehingga sering keinginan berexplorasi lebih besar dari anak-anak lain.

Punya daya khayal yang tinggi, sehingga berimajinasi lebih banyak dan lebih sering daripada anak-anak lain.

Punya energi yang berlebih sehingga merasa harus digunakan secara maksimal.

Punya kemampuan mengamati yang lebih besar, sehingga sering terlihat tidak perduli pada lingkungan.

Kalau saja mereka diberi kesempatan lebih besar, kalau saja kita bertoleransi lebih tinggi terhadap mereka...mereka akan berkembang dengan maksimal....dengan caranya.

Tukang Lincak

Lincak adalah sejenis bale-bale yang terbuat dari bambu, ukurannya macam-macam.

Aku bertemu penjual lincak ini waktu pulang kampung. Ayahku ingin membeli satu untuk ditaruh di teras, kami suka duduk-duduk sambil ngobrol di sana.

Penjualnya sudah tua ,mungkin saja usia sebenarnya belum setua penampilannya. Guratan di wajah itu sepertinya tergores karena harus sering berada di luar rumah, hasil guratan kelelahan dan kesulitan hidup.

Setelah dilihat-lihat, lincaknya tidak terlalu bagus,hasil garapannya kasar. Kalaupun ayahku jadi membelinya itu karena kasihan pada sepotong harapan yang terlihat dari wajah penjualnya.

Yang lebih membuat aku trenyuh, setelah menerima uang dari ayahku, penjual lincak itu mengucapkan Alhamdulillah berkali-kali, lalu mengucapkan terima kasih pada ayahku hingga membungkuk-bungkukkan badannya.

Aku harus berterima kasih pada penjual lincak itu, dia mengajarkan aku untuk selalu bersyukur dan berterima kasih atas segala sesuatu yang kita terima. Aku jadi malu, karena kadang lupa bersyukur setiap kali terima slip gaji .... padahal nilainya jauh sekali dibandingkan Rp. 10.000,- yang diterima penjual lincak itu.

Tuesday, February 08, 2005

Ojo njupuk.........

Itu potongan nasehat Ibuku saat aku merasa frustasi karena tidak kunjung memperoleh pekerjaan setelah aku lulus kuliah. Lengkapnya begini : "Ojo njupuk sing ora ghaduk, ojo nguber sing ora kober". Kalau di translate ke bahasa Indo versi aku menjadi " Jangan ambil yang tidak mampu kamu ambil, jangan kejar apa yang tidak mampu kamu kejar."

Mungkin kedengarannya kok pasrah banget sih, menyerah pada nasib, tidak mau berusaha, tipikal orang Jawa yang nrimo. Tapi tidak bagiku, nasihat itu dalam banget maknanya.
Benang merahnya adalah kita harus bisa mengukur diri, mengukur kemampuan supaya tidak "jatuh" dari tempat yang tinggi.

Berusaha, berjuang, itu memang harus dilakukan, tapi tidak harus dipaksakan. Sangat relevan dengan situasi dewasa ini dimana banyak orang keblinger. Mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak mampu mereka kejar, ingin memiliki sesuatu yang sesungguhnya belum mampu dimiliki, akhirnya menghalalkan segala cara untuk itu.