Tiga Pemberani Cilik (2)
Cerita ini bukan kelanjutan tiga anak kecil pemberani yang kutulis 18 Oktober 2005 lalu. Jika di Tiga Pemberani Cilik terdahulu aku penasaran dan kagum dengan cara orangtua anak-anak itu mendidik anak pemberani di jaman penuh kecurigaan dan ketakutan seperti sekarang, di cerita ini aku penasaran sekaligus marah bercampur sedih, pada orang tua 3 anak kecil yang kutemui 2 malam yang lalu. Apa pasalnya ?
Tiga anak itu kutemui dalam angkot saat pulang kantor, sekitar pukul 7 malam. Yang terbesar perempuan, umurnya sekitar 10 tahun, dia menggendong anak kecil lain, yang umurnya kutaksir sekitar 10-11 bulan, sembari menggendong dia menggandeng anak perempuan kecil lain yang umurnya sekitar 3 tahun. Yang menarik perhatian pertama, adalah anak perempuan kecil itu, karena dia tidak pakai baju, hanya mengenakan celana pendek tipis di malam dingin itu. Kukira mereka pengemis, karena anak perempuan kecil tak berbaju itu memegang gelas bekas air mineral dan uang receh di dalamnya.
Jika 3 anak pemberani sebelumnya itu akan berangkat sekolah dan hanya tersenyum manis jika ditanya , maka anak perempuan kecil yang kutemui malam itu hanya memandang kosong sementara anak yang tertua memandang dengan penuh kecurigaan pada orang-orang yang mengajak mereka bicara.
Siapapun anak-anak itu, bagiku mereka tetap pemberani cilik, berjuang untuk bertahan hidup di jalanan.
Tiga anak itu kutemui dalam angkot saat pulang kantor, sekitar pukul 7 malam. Yang terbesar perempuan, umurnya sekitar 10 tahun, dia menggendong anak kecil lain, yang umurnya kutaksir sekitar 10-11 bulan, sembari menggendong dia menggandeng anak perempuan kecil lain yang umurnya sekitar 3 tahun. Yang menarik perhatian pertama, adalah anak perempuan kecil itu, karena dia tidak pakai baju, hanya mengenakan celana pendek tipis di malam dingin itu. Kukira mereka pengemis, karena anak perempuan kecil tak berbaju itu memegang gelas bekas air mineral dan uang receh di dalamnya.
Jika 3 anak pemberani sebelumnya itu akan berangkat sekolah dan hanya tersenyum manis jika ditanya , maka anak perempuan kecil yang kutemui malam itu hanya memandang kosong sementara anak yang tertua memandang dengan penuh kecurigaan pada orang-orang yang mengajak mereka bicara.
Siapapun anak-anak itu, bagiku mereka tetap pemberani cilik, berjuang untuk bertahan hidup di jalanan.

7 Comments:
Selain pemberani mereka juga temasuk anak2 yang dewasa walopun usianya masih kecil yak mbak :).
By
Nunik, at 9:19 AM
Tiap hari aku juga ketemu anak-anak seperti ini di jalan. Kasihan, aku gak bisa bantu mereka lebih banyak. Mengharap negara ? apa lagi...Semoga mereka bisa melintasi masa depan dengan lebih baik. Dan tidak usah lama-lama mengalami kepahitan seperti ini.
Dwi
By
Anonymous, at 4:58 PM
Bila tenaga dan harta tiada terberi, hanya semilir doa yang bisa menyejukkan. Semoga masa depan para pemberani-pemberani itu tidak seburuk masa sekarang yang suram. Tuhan Maha Adil...
By
Fernando, at 1:42 PM
Padahal Mungkin dari mereka2x ini nanti nya bisa menjadi orang yg berguna.Mungkin Menjadi pejabat,Pengusaha,ilmuwan,dokter,pemimpin negara atau apa gitu.. siapa yg tau ?.
klo bukan anak2x kita atau mereka, siapa lagi ?
iklan banget. yah..
By
Prihastanto, at 1:44 PM
Setiap kali melihat yang seperti ini membuat hati teriris. Pada akhirnya hanya bisa berkata " kasihan banget". Ingin sekali melakukan sesuatu untuk mereka.
Mereka yang mempunyai harta dan kekuasaan apakah tidak tersentuh hatinya sedikitpun? :((
By
Manda nya Lovhana, at 2:06 PM
That's a great story. Waiting for more. phone answering service nicole richie seventeen magazine dress Mn state boys hockey Boating in canada Water bed sizes Milf teacher erotic stories Teen orgy videos Cnn fax number free printable basic sight word flash cards bookmaker baseball divorce alimony cillin internet security 2005 home High kia part performance answering service littleton ferrari gtb4 southern california answering service Volvo speed Free internet pdf fax Farm and county mutual insurance agent mcallen tex
By
Anonymous, at 9:52 PM
http://www.passionxchange.co.uk
By
Anonymous, at 7:18 AM
Post a Comment
<< Home